Nafas Sang Pagi Pagi yang menjadi surga kecil bagi banyak orang tapi tidak bagi diriku, Karna pagi selalu memisahkan ku dengan mimpi-mimpi yang ku bangun di sela mataku menembus keramaian imajinasi Bagiku pagi masih belum sempurna ketika aku tidak mencium aroma kopi robusta Ya...sampai saat ini aku masih belum berhasil mencium baunya. Aku ingin menyibukan pagiku dengan bedak dan lipstik, seperti orang-orang Meskipun pagiku selalu penuh dengan harapan, Ia akan hanyut oleh siang yang penuh perjuang, sampai akhirnya ia menyerah perjuangannya tergantikan oleh malam karena sebuah perjanjian. Huh...ini seperti nafas seorang pecundang Tapi inilah pagiku meski aku tahu... Takdirnya telah tertulis, semangatnya selalu membara seperti seorang pahlawan. Kini tinggal menunggu harapan yang menjadi nyata seperti sebuah kemerdekaan.